Beranda > Coretan Hidup, Keperawatan > [News] Depresi Nilai UAS Ancur, Mahasiswa Tega Bocorkan Jawaban

[News] Depresi Nilai UAS Ancur, Mahasiswa Tega Bocorkan Jawaban


Kabar dari manakah ini? HAHAHA. Karena stress, mahasiswa AKADEMI KEPERAWATAN CIANJUR tega memasukin kisi-kisi yang kemarin dirangkum. Dan apa daya, mahasiswa tersebut mengeluh karena ternyata hasilnya jauh dari tidak memuaskan. Mata kuliah yang dibebankan adalah KEPERAWATAN ANAK I, betapa tidak stress??. Manusia terkadang selalu demikian, makanya harus segala bersyukur. Dasaaaaar.😀

  • HIRSPRUNG: tidak terdapatnya (sedikit) sel saraf ganglion parasympatis pada usus yang disebabkan kegagalan migrasi sel ganglion kea rah kraniokaudal sepanjang sal. pencernaan, terjadi pada usia 5-12 minggu yang sering terjadi pada daerah rectosigmoid.
  • Manifestasi
    • Pada bayi baru lahir: tidak ada mekonium, muntah berwarna hijau, distensi abdomen, adanya konstipasi, diare dan anoreksi.
    • Pada anak yang lebih besar: ada riwayat obstipasi, distensi abdomen yang progresif, dinding abdomen tipis, vena tampak, peristaltic terlihat, konstipasi, feses seperti pita atau cair, anak gagal tumbuh.
  • Umur kegagalan kehamilan: terjadi pada usia 5-12 minggu
  • Klasifikasi:
    • Segmen pendek: aganglion anus – sigmoid 70%
    • Segmen panjang: aganglion kolon – usus halus
  • Diagnosa Keperawatan
    • Perubahan pola eliminasi b.d perubahan motilitas usus
    • Gangguan nutrisi kurang dari keb. tubuh b.d anoreksi, mual, diare
    • Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
    • Tidak efektifnya pola nafas
    • Gangguan integritas kulit disekitar stoma
    • Cemas
  • Implementasi
    • Pre OP: pengosongan usus dengan wash out (cairan NaCL, suhu fisiologis), observasi distensi abdomen, catat ketegangan abdomen, catat warna kulit abdomen dan gerakan peristaltic usus, membantu mempertahankan hidrasi dan nutrisi adekuat (monitor intake parenteral, berikan porsi kecil tetapi sering), melakukan perawatan NGT, berikan support pada keluarga.
    • Post OP: mencegah infeksi luka (teknik septic dan aseptic, antibiotic, observasi tanda infeksi), perawatan kolostomi (pertahankan posisi, catat cairan yang keluar, jumlah konsistensi, warna), observasi tanda-tanda prolap, senosis, infeksi), observasi adanya tanda-tanda peritonitis, ileus paralitik, dan pembengkakan), mencegah adanya distensi abdomen (pemasangan NGT, catat intake output, posisi yang nyaman), observasi tanda-tanda vital, support keluarga.
  • ATRESIA ANI: tidak terdapatnya lubang anus pada perineum, terjadi pada minggu ke 4 intrauterine.
  • Klasifikasi
    • Tipe rendah: rectum melewati m. puborectalis, posisi normal, stenosis atau imferforata, fistula bermuara di perineum pangkal penis atau vestibulum.
    • Tipe intermediate: rectum sampai di m. puberectalis, berakhir buntu atau fistula antara rectum dengan uretra, vagina.
    • Tipe tinggi: ujung distal berakhir di atas m. puberectalis, fistula kea rah uretra atau vesika urinaria atau vagina.
  • Manifestasi: tidak ada lubang anus, meconium (-) atau ada dalam urine (fistula), distensi abdomen, muntah, anoreksia (tidak mau menyusu)
  •  Masalah yang muncul: pola eliminasi, gangguan pernafasan, gangguan nutrisi, gangguan cairan dan nutrisi, resti infeksi.
  • HIDROCEPALUS: penimbunan cairan dalam rongga-rongga ventrikel otak akibat ketidakseimbangan antara pembentukan dan absorpsi CSS.
  • Etiologi: congenital, infeksi, neoplasma, blooding.
  • Manifestasi: lingkar kepala membesar tidak seimbang dengan usia, gejala timbul akibat TTIK, cracked pot sign (retak pot bunga), sunset sign (matahari terbenam), nistagmus. PADA KASUS berat: demam tinggi, stupor, kejang, dosorientasi, koma.
  • LABIOPALATOSCIZIS: penyakit congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah.
  • Komplikasi: gangguan bicara dan pendengaran, terjadinya otitis media, aspirasi, distress pernafasan, resiko infeksi saluran pernafasan, pertumbuhan dan perkembangan terhambat.
  • ASMA: suatu gangguan yang komplek dari bronchial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas).
  • Etiologi: Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan oleh: Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas, pembengkakan membran bronkus dan terisinya bronkus oleh mukus yang kental.
  • Manifestasi ASMAyaitu :
    •  Tingkat I :  Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru, Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.
    • Tingkat II : Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas, Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan
    • Tingkat III : Tanpa keluhan, Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas, Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
    • Tingkat IV : Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing, Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
    • Tingkat V: Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai, Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel.
    • Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti:Kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi
  • Pengobatan asma: dengan obat-obatan (beta agonist, methylxanlines, anti kolinergik, kortikosteroid, mast cell inhibitor -inhalasi-), tindakan yang tergantung dari penyakitnya: oksigen 4-6 liter/menit, agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam, pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan, aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini  dalam 12 jam, Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
  • Pemeriksaan penunjang:
    • Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas
    • Tes provokasi : untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. Tes provokasi bronkial seperti :  Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.
    • Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.
    • Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum
    • Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal
    • Analisa gas darah dilakukan pada asma berat
    • Pemeriksaan eosinofil total dalam darah
    •  Pemeriksaan sputum
  • Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma: pneumotoraks, atelektasis, gagal nafas, bronkhitis dan fraktur iga.
  • Diagnosa dan Intervensi:
    • Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus.
      •  Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya: wheezing, ronkhi.
      • Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi.
      • Kaji pasien untuk posisi yang aman, misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran.
      • Observasi karakteristik batuk, menetap, batuk pendek, basah. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk.
      • Berikan air hangat.
      • Kolaborasi obat sesuai indikasi.
    • Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
      • Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal.
      • Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels, wheezing.
      • Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
      • Observasi pola batuk dan karakter sekret.
      • Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk.
      • Kolaborasi: Berikan oksigen tambahan. Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer
    • Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
      • Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit, rambut, konjungtiva).
      • Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
      • Timbang berat badan dan tinggi badan.
      • Anjurkan klien minum air hangat saat makan.
      • Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering
    • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
      • Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dyspnea peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas.
      • Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
      • Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan atau tidur.
      • Bantu aktivitas keperawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
      • Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
    • Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi
      • Diskusikan aspek ketidak nyamanan dari penyakit, lamanya penyembuhan, dan harapan kesembuhan.
      • Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal.
      • Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif atau latihan pernafasan.
      • Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan.
  • DIAPER RASH (EKSIM POPOK) adalah kelainan kulit pada bayi & balita yang terjadi karena pemakaian popok.
  • Penyebab: Diaper Rash ini sering diakibatkan karena pemakaian popok yang salah, yaitu tidak segera mengganti popok setelah bayi/balita buang air besar. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Diaper Rash adalah Kelembaban kulit , Air seni dan kotoran dan Jamur/kuman.
  • Mencegah Diaper Rash
    • Segera mengganti popok setelah buang air besar
    • Mengunakan popok sekali pakai sesuai dengan daya tampungnya
    • Membersihkan kulit dengan air hangat setelah buang air besar
    • Agar kulit bayi/balita tidak lembab, setiap hari paling sedikit 2-3 jam bayi/balita tidak memakai popok
    • Memilih popok yang sesuai ukurannya dan terbuat dari bahan yang menyerap air
  • IMPETIGO biasanya juga mengikuti trauma superficial dengan robekan kulit dan paling sering merupakan penyakit penyerta (secondary infection) dari Pediculosis, Skabies, Infeksi jamur, dan pada insect bites (Beheshti, 2:2007).
  • Etiologi: Impetigo disebabkan oleh Staphylococcus aureusatau Group A Beta Hemolitik Streptococcus (Streptococcus pyogenes). Staphylococcus merupakan pathogen primer pada impetigo bulosa dan ecthyma  (Beheshti, 2:2007)
  • Penyebab
    • Kontak langsung dengan pasien impetigo
    • Kontak tidak langsung melalui handuk, selimut, atau pakaian pasien impetigo
    • Cuaca panas maupun kondisi lingkungan yang lembab
    • Kegiatan/olahraga dengan kontak langsung antar kulit seperti gulat
    • Pasien dengan dermatitis, terutama dermatitis atopik (Beheshta, 2:2007).
  • Pencegahan:
    • Cuci tangan segera dengan menggunakan air mengalir bila habis kontak dengan pasien, terutama apabila terkena luka.
    • Jangan menggunakan pakaian yang sama dengan penderita
    • Bersihkan dan lakukan desinfektan pada mainan yang mungkin bisa menularkan pada orang lain, setelah digunakan pasien
    • Mandi teratur dengan sabun dan air (sabun antiseptik dapat digunakan, namun dapat mengiritasi pada sebagian kulit orang yang kulit sensitif)
    • Higiene yang baik, mencakup cuci tangan teratur, menjaga kuku jari tetap pendek dan bersih
    • Jauhkan diri dari orang dengan impetigo
    • Cuci pakaian, handuk dan sprei dari anak dengan impetigo terpisah dari yang lainnya. Cuci dengan air panas dan keringkan di bawah sinar matahari atau pengering yang panas. Mainan yang dipakai dapat dicuci dengan disinfektan
    • Gunakan sarung tangan saat mengoleskan antibiotik topikal di tempat yang terinfeksi dan cuci tangan setelah itu. (Sumber: Northern Kentucky Health Department, 1:2005).
  • FISIOTERAPI DADA adalah suatu metode terapi untuk membuka jalan nafas dan mengencerkan dahak dengan cara penguapan, pemanasan, pemijatan, postural drainage, latihan bernafas dan suction.
  • Tujuan
    • Untuk mencegah dan mengatasi hipoksis
    • Untuk mengeluarkan secret yang tertampung
    • Untuk mencegah akumulasi secret agar tidak terjadi atelektasis
    • Memperbaiki pergerakan dan aliran sekret

Dosen: Bu Yulmarisva

  • ASPIKSIA NEONATORUM: keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dengan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lanjut.
  • Klasifikasi: Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3, asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6, bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
  • Komplikasi: edema otak dan perdarahan otak, anuria atau oligaria, kejang, koma.
  • SEPSIS: infeksi bakteri pada aliran darah bayi selama empat mingg pertama kehidupan (Bobak, 2005), infeksi berat dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah (surasmi, 2003) dan mikroorganisme pathogen atau toksinnya di dalam darah (Dorland, 2001).
  •  Faktor yang mempengaruhi infeksi:
    • Faktor maternal: status sosial ekonomi ibu, rasa dan latar belakang, status paritas (wanita multipara atau gravid lebih dari 3) dan umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun, kurangnya perawatan prenatal, ketuban pecah dini, prosedur selama persalinan.
    • Faktor neonatal: prematurius (berat badan bayi kurang dari 1500 gram), defisiensi imun, laki-laki dan kehamilan kembar (insiden pada laki2 lebih 4x lebih besar)
    • Faktor diluar ibu dan neonatal: penggunaan kateter vena/arteri maupun kateter nutrisi parenteral, paparan terhadap obat-obat tertentu, infeksi nosokomial.
  • Pencegahan: PADA MASA ANTENATAL (perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan, immunisasi, pengobatan, asupan gizi, rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan), PADA MASA PERSALINAN (perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik), PADA MASA PASCA PERSALINAN (rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan luka umbilicus secara steril)
  • TETANUS NEONATORUM: tetanus yang terjadi pada bayi yang dapat disebabkan adanya infeksi melalui tali pusat.
  • Penyebab: klostrodium tetani bersifat anaerob, berbentuk spora selama diluar tubuh manusia. Masa inkubasi: berkisar antara 3-14 hari.
  • IRDS (Infant Respiratori Distres Sindrom): merupakan sindrom gawat nafas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang (Malloy dan Freeman, 2000)
  • CAMPAK: disebabkan oleh virus paramiksovirus dari pada genus morbilivirus. Masa inkubasi: 10-12 hari.
  • Tanda
    • o Stadium Kataris, berlangsung 4-5 hari. Gejala: flu, batuk, demam, konjungtivitis, nyeri tenggorokan, pembesaran KGB, bercak putih kelabu dikelilingi daerah kemerahan.
    • o Stadium erupsi, terjadi 2-3 hari setelah stadium awal. Gejala: titik merah pada palatum durum dan palatum mole, berak makulopapular, fotofobia.
    • o Stadium konvalensi. Gejala: gejala-gejala sudah mulai menghilang dan meninggalkan bekas (hiperpigmentasi)
  • DIFTERI: penyakit infeksi yang dapat menyerang pada saluran nafas bagian atas.
  • Penyebab: corynebacterium diphtheria
  • Klasifikasi
    • DIFTERI faring-tonsil. Gejala: demam tidak tinggi, nyeri telan, pseudomembran yang diawali bercak putih keabuan dan akan meluas ke faring, nafas berbau, bulneck.
    • DIFTERI laring-trakea. Gejala: sesak nafas hebat, stidor inspirasi, sianosis, retraksi otot suprastrenal.
    • DIFTERI hidung. Gejala: mula-mula tampak pilek, secret yang keluar tercampur darah sedikit yang berasal dari pseudomembran, penyebaran pseudomembran dapat mencapai faring dan laring.
  • Pencegahan: dapat dicegah dengan immunisasi pada bayi umur dua bulan sebanyak tiga kali dengan selang satu bulan, immunisasi DPT.
  • Faktor determinan: cakupan immunisasi (tidak lengkap, sangat beresiko), kualitas vaksin (kurang menjaga coldchain), faktor lingkungan (sanitasi rendah menunjang penyakit), rendahnya tingkat pengetahuan si ibu, akses pelayanan kesehatan yang rendah.
  • MASA INKUBASI HIV: berkisar 3 bulan sampai 5-11 tahun.
  • Stadium HIV/AIDS
    • Stadium HIV: mulaii masuknya kuman HIV diikuti terjadinya perubahan serologic (antibody terhadap virus berubah dari negatif menjadi positif) 1-3 bulan
    • Stadium asimtomatis (tanpa gejala): di dalam tubuh sudah ada HIV tetapi belum menunjukkan gejala dan dapat berlangsung 5-10 tahun
    • Stadium pembesaran kelenjar limfe: pembesaran kelenjar limfe menyeluruh dan menetap berlangsung > 1 bulan
    • Staidum AIDS: tahap akhir infeksi ditandai dengan bermacam infeksi sekunder. Gejala mayor (demam berkepanjangan >3 bulan, diare kronis >1 bulan berulang maupun terus menerus, penurunan BB > 10% dalam 3 bulan), gejala minor (batuk kronis selama 1 bulan, infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur candida albican, pembengkakan kelenjar getah bening, munculnya hepes zoster berulang dan bercak gatal dis eluruh tubuh)
  • Pencegahan
    • Mencegah jangan sampai ada wanita yang terinfeksi
    • Jika sudah terinfeksi, cegah jangan sampai ada kehamilan
    • Apabila hamil, cegah penularan dari ibu ke bayi dan anaknya
    • Apabila ibu dan anak sudah terinfeksi, berikan dukungan dan perawatan bagi ODHA dan keluarganya
    • PRINSIP pencegahan: mengubah perilaku seksual (ABC), kosultasi dan tes HIV (VCT), kewaspadaan Universal Precautions
    • Pencegahan dari ibu ODHA ke janin. Menggunakan antiretroviral selama kehamilan resiko penularan ke bayinya sekitar 2%, jika tidak minum ARV, resikonya mencapai 30% saat persalinan dan bayi yang baru dilahirkan. Penanganan obstetric selama persalinan, penatalaksanaan saat menyusui.
  • Diagnosa: Resiko infeksi, kurang nutrisi dari kebutuhan tubuh, kurangnya volume cairan, gangguan integritas kulit, perubahan atau gangguan membrane mukosa, ketidakefektifan koping keluarga, kurangnya pengetahuan keluarga.
  • HIPOSPADIA: kelainan bawaan lahir pada genetalia eksterna anak laki-laki berupa kelianan dimana lubang tempat berkemih tidak pada tempatnya.
  • Tipe-tipenya: glanular (hipospadia yang lubangnya berada di glans penis), penile (lubangnya berada di batang penis), penoscotal (lubangnya berada di batas antara penis dan scrotum), scrotal (lubangnya berada di skrotum), perineal (lubangnya berada di perineum).
    • PHYMOSIS: istilah yang menggambarkan keadaan kulup penis yang tidak dapat ditarik.
    • SINDROM NEFROTIK: status klinis yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas membrane glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004)
    • FUNGSI RESTRAIN: untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan anak, memfasilitasi pemeriksaan, membantu dalam pelaksanaan uji diagnostic dan prosedur terapeutik.
    •  Macam restrain: restrain jaket, restrain mumi atau bedong, restrain lengan dan kaki, retrain siku.
    • PERTUSIS: salah satu jenis batuk yang sangat menular, penularan dapat terjadi melalui batuk penderita yang terhirup oleh orangs ehat.
    • Inkubasi: 3-12 hari
    • Tanda-tanda: stadium catrrhal (pilek, bersin, mata merah, mata berair, demam ringan, batuk kering) dan stadium proksimal (sesudah 1-2 minggu dilanjutkan dengan batuk yang terus menerus namun diikuti masa di mana ada jeda batuk, adanya muntah)
  • KEHAMILAN POST DATE adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap. Diagnosa usia kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan dari perhitungan seperti rumus neagle atau dengan tinggi fundus uteri serial (Mansjoer, 2001).
  • Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998)
    • Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram)
    • Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur
    • Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
    • Verniks kaseosa di bidan kurang
    • Kuku-kuku panjang
    • Rambut kepala agak tebal
    • Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

Dosen: Pak Pardjaman

  • Jenis meningitis:
    • Meningitis Bakteri (bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza, Nersseria, Diplokokus pnemonia, Sterptokokus group A, Stapilokokus Aurens, Eschericia colli, Klebsiela dan Pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit)
    • Meningitis Virus (tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti; gondok, herpez simplek dan herpez zoster).
    • Meningitis serosa adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia
    • Meningitis purulenta adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
  • Pemeriksaan diagnostic. Analisis CSS dari fungsi lumbal, Glukosa serum, LDH serum, Sel darah putih, Elektrolit darah, ESR/LED, Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine, MRI/ skan CT dan Ronsen dada/kepala/ sinus
  • Intervensi Meningitis: NYERI
    • Kaji karakteristik nyeri
    • Berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher
    • Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi)
    • Kompress dingin
    • Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif
    • Berikan anal getik, asetaminofen,  codein
  • PENGKAJIAN. Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kejang demam menurut Greenberg (1980 : 122 – 128)
    • Riwayat Keperawatan: adanya riwayat kejang demam pada pasien dan keluarga, adanya riwayat infeksi seperti saluran pernafasan atis, OMA, pneumonia, gastroenteriks, Faringiks, brontrope, umoria, morbilivarisela dan campak, adanya riwayat peningkatan suhu tubuh, adanya riwayat trauma kepala
    • Pengkajian fisik: adanya peningkatan: [suhu tubuh, nadi, dan pernafasan, kulit teraba hangat], [ditemukan adanya anoreksia, mual, muntah dan penurunan berat badan], [adanya kelemahan dan keletihan], [adanya kejang], [pada pemeriksaan laboratorium darah ditemukan adanya peningkatan kalium, jumlah cairan cerebrospiral meningkat dan berwarna kuning].
    • Riwayat Psikososial atau Perkembangan: [tingkat perkembangan anak terganggu], [adanya kekerasan penggunaan obat – obatan seperti obat penurun panas], [pengalaman tantang perawatan sesudah/ sebelum mengenai anaknya pada waktu sakit].
    • Pengetahuan keluarga: [tingkatkan pengetahuan keluarga yang kurang], [keluarga kurang mengetahui tanda dan gejala kejang demam], [ketidakmampuan keluarga dalam mengontrol suhu tubuh], [keterbatasan menerima keadaan penyakitnya].
  • Diagnosa Keperawatan
    • Resiko tinggi terhadap cidera b.d aktivitas kejang
    • Hipertermi bd efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus
    • Perfusi jaringan cerebral tidak efektif  bd reduksi aliran darah ke otak
    • Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi, prognosis, penatalaksanaan dan kebutuhan pengobatan bd kurangnya informasi
  • Keluhan utama anak dengan ENCHEPALITIS: panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
  • Etiologi Resiko Peningkatan TIK: virus/bakteri.
  • Tindakan TIK
    • Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan pungsi lumbal
    • Pantau/catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS
    • Pantau tanda vital, seperti tekanan darah. Catat serangan dari/hipertensi sistolik yang terus-menerus dan tekanan nadi yang melebar
    • Anjurkan keluarga untuk berbicara dengan pasien jika diperlukan
    • Berikan obat sesuai indikasi, seperti : steroid : deksametason, metilprednison(medrol)
  • Penyebab ANEMIA: Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
  • Tanda Khas THALASEMIA: pada muka (tulang hidung maka wajah akan berubah bentuk, batang hidung akan hilang/ melesak ke dalam (fasise cookey).
  • Penatalaksanaan Terapi
    • Transfusi sel darah merah (SDM) sampai kadar Hb sekitar 11 g/dl. Pemberian sel darah merah sebaiknya 10 – 20 ml/kg berat badan.
    • Pemberian chelating agents (Desferal) secara intravena atau subkutan.
    • Tindakan splenektomi perlu dipertimbangkan terutama bila ada tanda – tanda hipersplenisme atau kebutuhan transfusi meningkat atau karena sangat besarnya limpa.
    • Transplantasi sumsum tulang  biasa dilakukan pada thalasemia beta mayor
  • Etiologi Resti LEUKIMIA: Resiko tinggi terhadap infeksi b/d inadekuat pertahanan sekunder atau penurunan respon kekebalan. Penyebab: virus/bakteri.
  • Pengertian ASD: Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin. Atrial Septal Defect (ASD) adalah suatu lubang pada dinding (septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan).
  • Pengertian VSD: VSD adalah kelainan jantung berupa tidak sempurnanya penutupan dinding pemisah antara kedua ventrikel sehingga darah dari ventrikel kiri ke kanan, dan sebaliknya. Umumnya congenital dan merupakan kelainan jantung bawaan yang paling umum ditemukan (Junadi, 1982)
  • Derajat 1 DEMAM BERDARAH: demam disertai satu atau lebih gejala, nyeri kepala, nyeri retro orbita + uji tourniquet positif.
  • Penyebab SYOK DBD: karena pembuluh darah mengalami kekurangan cairan plasma.
  • TATALAKSANA DSS dan DBD +terlampir+
  • Tujuan Isolasi pada VARISELA: untuk mencegah penularan.
  •  Tahap awal (fase prodomal), 24 jam sebelum timbul gejala kelainan pada  kulit terhadap gejala-gejala panas, perasaan lemah, malas tidak nafsu makan, dan kadang-kadang disertai kemerahan seperti biang keringat.

Dosen: Bu Sri Hartati

  • BBLR adalah BBLR ialah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram sampai dengan 2499 gram.
  • HIPERBILIRUBINEMIA Kern Ikterus adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus  Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.
  • ENZIM yang dihasilkan hati: enzim katalase [untuk melinduni bagian dalam sel dari kondisi oksidatif dan racun (toksin)]. Dihasilkan oleh pancreas: amylase [mencerna karbohidrat], lipase [mencerna lemak], dan protease [untuk mencerna protein]
  • Indikasi Bilas Lambung: Penanganan kasus keracunan, seperti keracunan obat-obat atau bahan kimia sebagai berikut : antidepresan trisiklik, asetaminofen, fensiklidin, jamur, orgnofosfat, sianida, over dosis narkotik, dan transquilizer. Penanganan kasus perdarahan lambung hebat atau hematemesis seperti pada klien dengan sirosis hepatic.
  • Komplikasi Tindakan: Aspirasi, Bradikardi, Hiponatremia, Epistaksis, Spasme laring, Hipoksia dan hiperkapnia, Injuri mekanik pada leher, eksofagus dan saluran percernaan atas, Ketidakseimbangan antara cairan dan elektrolit  dan Pasien yang berontak memperbesar resiko komplikasi.
  • Cairan yang Digunakan. Pada anak-anak, jika menggunakan air biasa untuk membilas lambung akan berpotensi hiponatremi karena merangsang muntah. Pada umumnya digunakan air hangat (tap water) atau cairan isotonis seperti Nacl 0,9 %. Pada orang dewasa menggunakan 100-300 cc sekali memasukkan, sedangkan pada anak-anak 10 cc/kg dalam sekali memasukkan ke lambung pasien.
  • Penyebab DIARE
    • Faktor infeksi: ENTERAL (Bakteri (shigella, shalmonella, vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans). PARENTERAL: Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak), tonsillitis, bronkopneumonia, ensefalitis.
    • Faktor malabsorbsi: Karbihidrat (Disakarida: INTOLERANSI LAKTOSA, maltose dan sukrosa. Monosakarida: intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa), lemak dan protein.
    • Faktor makanan: Makanan basi, beracun, dan alergi terhadap jenis makanan tertentu
    • Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.
  • Manifestasi: diare AKUT karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut
  • Penatalaksanaan diare akut: REHIDRASI sebagai prioritas utama terapi, TATA KERJA terarah untuk mengidentifikasi penyebab infeksi, memberikan terapi simtomatik, memberikan terapi definitive.
  • PEMERIKSAAN fisik: TTV [suhu badan: mengalami peningkatan], [nadi: cepat dan lemah], [pernafasan: frekuensi nafas meningkat] dan [tekanan darah: menurun]
  • Sistem integument: lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek.
  • Penatalaksanaan suhu bayi PREMATUR: ditempatkan pada incubator, untuk mempertahankan suhu tubuh. Jika diperlukan bantuan respirator dan tambahan oksigen.
  • IKTERUS FISIOLOGIS HIPERBILIRUBIN. Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut  (Hanifa, 1987):
    • Timbul pada hari kedua-ketiga
    • Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan
    • Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
    • Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
    • Ikterus hilang pada 10 hari pertama
    • Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu
  • Bentuk KKP. Marasmus: keadaan kurang kalori [masukan kalori kurang kibat kesalahan pemberian, makanan, oenyakit metabolik, kelainan congenital, infeksi kronik atau kelainan organ tubuh lainnya]. Kwashiorkor: keadaan kekurangan protein yang parah dan pemasukan kalori yang kurang [diare yang kronik, malabsorpsi protein, sindrom nefrotik, infeksi menahun, luka bakar, penyakit hati]. Marasmus kwashiorkor: keadaan peralihan antara marasmus dan kwashiorkor.
  • Etiologi Marasmus +lihat diatas+
  • Gejala klinis KWASHIORKOR: [secara umum anak tampak sembab, letargi, cengeng dan mudah terangsang pada tahap lanjut anak menjadi apatis dan koma], [pertumbuhan terhambat], [udema], [anoreksi dan diare], [jaringan otot mengecil, tonus menurun, jaringan subkutis tipis dan lembek], [rambut berwarna pirang, berstruktur kasar dan kaku serta mudah dicabut] [kelainan kulit, tahap awal kulit kering, bersisik dengan garis-garis kulit yang dalam dan lebam, disertai defisiensi vitamin B kompleks], [anak mudah terjangkit infeksi] dan [terjadi defisiensi vitamin dan mineral]
  • PRINSIP pengobatan: pemberian makanan yang banyak mengandung protein bernilai biologi tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral. Makanan tersebut dalam bentuk mudah dicerna dan diserap, diberikan secara bertahap.
  • Pemeriksaan LAB
    • Pada kwashiorkor: penurunan kadar albumin, kolesteron dan glukosa
    • Kadar globulin dapat normal atau meningkat, sehingga perbandingan albumin dan globulin serum dapat terbalik
    • Kadar asam amino esensial dalam plasma relative lebih rendah dari pada asam amino non esensial
    • Kadar immunoglobin normal, bahkan dapat meningkat
    • Kadar IgA serum normal, namun kadar IgA sekretori rendah
  • Pengkajian fisik marasmus: badan kurus, atrofi otot, rambut kemerahan dan kusam, tampak sianosis, perut membuncit. Jika dipalpasi: turgor kulit jelek.
  • Diagnosa dan Intervensi KWASHIROKOR
    • Gangguan nutrisi [mengukur dan mencatat BB pasien, menyajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering, menyajikan makanan yang dapat menimbulkan selera makan, menyajikan makanan TKTP, memberikan motivasi agar mau makan, memberikan makan lewat parenteral]. EVALUASI: karena TKTP BB naik ½ tiap 3 hari
    • Intoleransi aktifitas [kaji aktifitas klien sehari-hari, bantu ADL sesuai dengan kemampuannya, melatih dan membimbing merubah posisi, membantu pasien melakukan aktifitas/gerakan ringan ]. EVALUASI: keb.aktifitas maksimal, pasien mampu memenuhi ADL tanpa bantuan.
    • Potensial terjadi komplikasi [memberikan makan cukup gizi TKTP, menjaga personal hygiene, memberikan penkes, kolaborasi pemberian parenteral]
  • Sistem pencernaan pada DIARE: ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltic usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3x dengan kosistensi encer.

 SELAMAT BELAJAR!!! GOOD LUCK!! –keep spiriiiit!!-

  1. 2 September 2012 pukul 14:31

    I have read so many content on the topic of the blogger lovers however this paragraph is really a
    nice post, keep it up.

  2. 19 April 2013 pukul 18:46

    Hello there, I found your web site by the use of Google while searching for a comparable topic, your website came up, it seems to be good.
    I’ve bookmarked it in my google bookmarks.
    Hello there, just was alert to your weblog through Google, and located that it’s really informative.
    I am gonna be careful for brussels. I will be grateful in case you proceed this in future.
    Numerous other people will probably be benefited out of your writing.
    Cheers!

  3. 20 Desember 2013 pukul 15:09

    I know this if off topic but I’m looking into starting my own
    blog and was curious what all is required to get set up?
    I’m assuming having a blog like yours would cost a pretty penny?
    I’m not very web smart so I’m not 100% sure. Any recommendations or advice would be greatly appreciated.
    Cheers

  4. asd
    22 Maret 2016 pukul 12:17

    Great post.

  5. 18 Oktober 2016 pukul 04:06

    It’s actually very complicated in this busy life to listen news on TV, so I simply use web for that
    reason, and obtain the most up-to-date news.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: