Beranda > Coretan Hidup > [Story] Satu Jam Bersama Abang Becak

[Story] Satu Jam Bersama Abang Becak


“Bagaimana ini, Dian? Kita tak bisa pulang ini. Banjir kali jalannya”, keluhku saat melangkahkan kaki ke luar aula kampus. Aku dan Dian hendak pulang setelah menunggu hujan deras berhenti di sekretariat lembaga pers mahasiswa tempat kami menghasilkan karya berupa majalah kampus. Dan kami berdua baru bisa pulang setelah maghrib berkumandang. Ternyata kondisi di luar aula cukup membuat aku dan Dian basah, sepatuku saja sampai tenggelam dibuatnya. Benar-benar hujan yang sangat deras dari pukul empat sore tadi. Awalnya aku ingin pulang setelah jam empat, namun tiba-tiba air tumpah begitu saja dari langit berhiaskan mendung. Aku berlari lagi ke dalam aula dan menuju ke sekretariat. Kota Medan pun menjadi dingin sejenak dan bau parit yang menguap segera menyeruak. Jalanan mulai macet karena banjir. Sampai setelah maghrib, aku dan Dian bisa pulang tanpa basah kuyup di badan.

“Masyaallah, macet kali jalannya. Banjir gak karuan, angkotnya juga terjebak, tuh liat”, ujarku sambil menunjuk jalanan yang bagaikan sungai berwarna coklat dengan tumpukan kendaraan; mobil, angkot, dan sepeda motor alias kereta kalau orang Medan bilang. Dian juga terlihat risau karena angkot menuju Tembung mulai susah kalau banjir begini.

“Iya nih, En. Kau masih ada angkot?”, tanyanya sedikit khawatir.

“Kalo jam segini, masih ada aja nya. Asalkan ada angkot yang bisa ke simpang sana, aku bisa nyambung naek angkot lagi. Tapi kalo kondisi jalan kayak gini, naek becak ajalah. Kalo kau?”, tanyaku balik pada Dian.

“Sama, kalo ada angkot yang ke simpang. Tapi kita kayaknya gak bisa ke simpang, En. Kita mutar dari Lau Dendang kayaknya, dan cari angkot di sana. Kau pulang naek becak aja ya, aku sampe simpangnya aja, trus nanti cari angkot di sana. Gak papa kan, Eni?”, ujar Dian seraya memegang pundak sebelah kananku. Aku pun mengangguk tanda setuju.

Kami berjalan menyusuri tepian jalan yang sudah dipadati kereta yang tak sabar ingin segera melajukan keretanya. Dengan hati-hati kami berjalan di tengah-tengah badan jalan yang padat dengan kendaraan dan kami berhenti di jalan yang sepi kendaraan. Alhamdulillah, tak perlu  waktu  lama  untuk  menyetop becak motor (betor) yang melintas di depan kami. Kami langsung bernegosiasi soal ongkos becak, maklum mahasiswa harus pandai menawar untuk naik becak, pasalnya kalau kita tidak tahu ukuran harganya, bisa-bisa kita membayar dua lipat dari ongkos biasa. Aku pun membayar sepuluh ribu rupiah untuk  ongkos perjalanan ke jalan Pancing, karena jalannya memutar dari arah biasanyam jadi sedikit mahal. Tak apalah, pikirku, yang penting aku selamat sampai rumah. Dari pengalamanku naik becak motor di kota Medan ini, alhamdulillah aku selalu selamat sampai rumah kos. Aku dan Dian langsung naik ke becak dan abang becak siap mengantar kami ke peraduan masing-masing. Pertama, mengantarkan Dian ke simpang Lau Dendang untuk mendapatkan angkot ke Tembung. Lalu, abang becak mengantarkanku melalui jalan alternatif dari Lau Dendang. Sambil membawa becaknya, abang ini pun memulai pembicaraannya, mungkin karena perjalanan kami akan panjang, dia mulai menceritakan tentang jalanan Lau Dendang yang dulu sangat sepi. Aku pun dengan seksama mendengarnya, dan aku menikmati ceritanya. Lumayan sebagai pengusir rasa bosan di dalam becak ini.

“Dulu dek, tak ada yang berani lewat jalan ini. Angkotnya pun masih satu-dua, belum seramai ini”, abang becak memulai ceritanya sambil sesekali menghisap sebatang rokok. “Jam tujuh aja udah tak ada lagi orang yang berani keluar dari rumah. Daerah ini dulu rawan rampok, dek”, aku yang mendengar ceritanya bergidik namun aku tetap positif saja menanggapi ceritanya. Dia pun terus saja berceloteh tentang jalan itu, dan aku tetap mendengarnya. Namun aku mulai merasa takut juga, kenapa jalannya agak sepi. Pikiran negatif mulai muncul dan aku langsung saja menghujamnya dengan pertanyaan,” Bang, mau kemana ini? Kok jalannya sepi?”, aku merasa panik dan ingin saja berhenti di jalan itu, tapi tidak mungkin. Sama saja aku menaruhkan nyawaku di jalan itu.

“Tenang aja dek, abang gak akan ngapa-ngapain, percaya saja”, jawabnya dengan tenang. Aku pun tak mau berburuk sangka dengan abang becak ini dan untuk mengusir rasa takut, dengan naluri jurnalistik yang ada pada diriku, kuhujani dia dengan berbagai pertanyaan untuk membuat suasana menjadi hangat, tak sedingin yang tadi.

“Udah dari tadi nariknya, bang?”

“Ah, baru aja abang keluar dek abis maghrib ini. Orang rumah lagi hamil tua, jadi gak bisa kutinggal lama-lama, dek, hehehehe”, jawabnya sambil tertawa kecil. Dan mulutku pun ber”oooo” mendengar jawabannya. Ternyata dia sudah beristri.

“Ini anak yang keberapa, bang?”

“Anak yang kedua. Yang pertama masih kelas tiga SD”, jawabnya tanpa beban. Sepertinya pria paruh baya ini sudah biasa menjawab pertanyaan seperti itu. Dengan rasa santai, dia tak marah menjawab pertanyaan-pertanyaanku, bahkan dia menjawab dengan wajah sumringah dan cerah walau malam semakin dingin menggigit kulit. Walau bagaimanapun, abang becak juga manusia. Dia juga butuh nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Aku pun melanjutkan pertanyaanku.

“Udah berapa lama abang narik becak ini?”

“Ehmmmm….. berapa ya? Oh, sekitar lima tahunlah, dek”, jawabnya sambil sesekali menolehkan wajahnya ke arah kiri. Lalu dia menceritakan pengalaman hidupnya mencari nafkah.

“Dulu sebelum jadi tukang becak, abang udah keliling Sumatra, dek. Waktu itu ya jadi kuli bangunan. Apapun dikerjakan, yang penting halal”, sambil berkonsentrasi membawa becak, dia tampak tenang menjawab pertanyaanku. Aku pun cukup salut dengan perkataannya. Seperti di dalam lagu nasyid Maidani, kita tiada tahu isi hati manusia yang kelihatan dari luar tidak baik padahal hatinya begitu baik. Untuk menemukan manusia yang memiliki hati di kota metropolitan ketiga di Indonesia ini, sudah cukup sulit. Kulanjutkan pertanyaan yang mulai tak sabar ingin kuajukan pada abang becak yang ramah ini.

“Waktu itu abang masih lajang atau udah beristri?”

“Abang udah ada istri dan anak satu itu, dek. Sempat juga dulu abang bawa orang rumah ke Aceh enam bulan. Makan gak makanlah kami, dek. Hidup kami sangat sulit waktu itu. Jangankan untuk beli perkakas rumah, untuk makan aja rasanya udah bersyukur kami, dek. Itulah hidup”, dia menjawab dengan sedikit lirih dan ada rasa sedih dalam perkataannya. Aku pun turut iba dan melihat ke dalam diriku. Teringat akan ayah yang bekerja sebagai polisi di kampung sana dan ibu yang mengurusi adik-adikku. Aku masih lebih beruntung memiliki orangtua yang bekerja tetap dan tidak pernah merasa kekurangan. Ya Allah, maafkan hamba-Mu yang jarang bersyukur ini, berilah kesehatan pada orangtuaku dan saudaraku. Dan jauhkanlah dari api neraka ya Allah, pintaku dalam hati. Dan berilah juga rezeki yang murah pada abang becak ini, dan selalu ada di jalan-Mu, amin.

Tiba-tiba abang becak memutar balik becaknya. Dia pun menuju warung yang menjual bensin per liter. “Kita isi dulu tenaganya ya, dek. Daripada kita dorong di tengah jalan nanti, hahaha”, tawanya yang tanpa beban itu pun ikut  membuat lengkungan di bibirku, sebuah senyuman. Setelah mengisi minyak, abang becak kembali men-starter becaknya dan menyusuri jalan di malam yang mulai menghangat.

“Abang kalok dapat penumpang mahasiswa yang nawar, abang gak bisa ngomong apa-apa lagi dek. Karena abang juga punya adek yang lagi kuliah, udah semester dua dia”, tiba-tiba saja dia mengutarakan kata-kata itu. Hal ini semakin membuatku salut pada abang becak ini. Tapi aku meralat perkataannya,

“Ini lagi semester ganjil bang, jadinya semester satu. Adek abang baru masuk kuliah ya?”

“Iya, tahun ini dia baru masuk”

“Oooh. Kuliah dimana dan jurusan apa, bang?”

“Di USU, Akuntansi Keuangan dia. Biar dia gak kayak abangnya ini dek, Cuma seorang tukang becak. Dia dikuliahkan biar jadi orang yang bagus masa depannya. Cukuplah abang yang gak sekolah”, suaranya terdengar parau ketika menceritakan tentang adiknya.

“Tapi kan bang, abang kerjanya halal, gak masalah itu . ya kan bang?”, aku mencoba menghiburnya sedikit.

“Iya dek. Alhamdulillah. Biar tampang abang seram, hati abang malaikat ini, dek. Hahahaha”, jawabnya berseloroh, aku pun tak bisa menolak untuk tertawa.

“Abang jadi teringat waktu kerja di Pekanbaru, dek. Abang udah gak ada proyek buat bangunan, jadi abang luntang-lantung di sana. Tanpa uang, pekerjaan, dan tempat tinggal. Lalu ada kawan nawarin tinggal di kos-kosan dia. Pokoknya gratislah tinggal di sana. Tanpa pikir panjang, abang terima saja tawarannya. Dan ternyata tempat kos-kosannya itu, astaghfirullah. Maaf cakap ya dek, banyak cewek-cewek PSK-nya”, dia sedikit berbisik ketika memberitahuku tentang tempat tinggalnya di Pekanbaru. Sontak aku pun kaget dan beristighfar. Lalu lalang kendaraan tak sedikitpun mengusik pendengaranku, aku fokus untuk mendengar cerita selanjutnya yang akan meluncur lagi dari mulutnya.

“Tau sendirilah adek, kalo cewek kayak gitu kan. Benar-benar menggoda keimanan, hehehe. Abang udah punya istri dan anak itu. Mereka kalo di dalam kos-kosan itu gak ada segan-segannya. Maaf cakap, bajunya itu loh dek, buat mata ini jadi liar. Tapi, kami para pria yang tinggal di situ udah ngerti, dek. Kami bilang mereka udah ‘hambar’,maaf cakap udah gak perawan lagi”, jelasnya sambil menghisap rokok yang kedua.

“Astaghfirullah. Jauhkanlah hamaba dari perbuatan yang hina, ya Rabb”, doaku dalam hati.

“Cara kami hidup ya dari uang mereka itu dek. Mereka pergi malam dan pulang pagi sambil mabuk-mabukan, dek. Istirahatlah orang itu sampe siang. Waktu mereka bangun, kami disuruh beli Aqua di bawah. Nah, sisa uang dari mereka itu dikasih ke kami. Hahaaha, mereka kalo bawa uang mana pernah sikit-sikit dek. Ya, lumayanlah dapat dari uang kembaliannya itu. Kadang-kadang duapuluh ribu, kadang lima belas ribu”, kenangnya sambil sesekali memperhatikan jalan raya.

“Biasanya abang juga punya langganan mahasiswa yang maaf cakap kerja malam juga, dek. Cuma karena istri abang lagi hamil, gak sampe malam-malam kali abang narik”, ucapnya sedikit berteriak, keadaan jalan lumayan ramai.

“Jangan salah, dek. Banyak mahasiswa dari universitas negeri di sini yang jadi PSK. Waktu abang tanya kenapa orang itu kerja kayak gitu, rata-rata karena faktor ekonomilah, kurang untuk uang kuliah. Ngakunya sama orangtua kuliah, eh gak taunya kerja kayak gitu. Tapi kebanyakan juga karena gengsi dek, gak tahan sama lingkungannya yang berduit. Pengen beli hape mahal, baju bagus, sepatu mahal, terus jadi cewek malam. Yang masih SMA juga banyak dek, dan yang SMP juga ada”, aku pun merinding mendengar ceritanya. Bukan hanya sekedar cerita, ternyata kota Medan juga mempunyai catatan malam yang kelam setiap harinya. Aku memang tak pernah tahu yang sebenarnya, aku jadi banyak belajar dari abang becak ini bahwa hidup di kota besar penuh dengan tantangan. Sebagai orang perantauan, harus lebih banyak melihat orang yang kurang kemampuan finansialnya daripada melihat merekea yang bergaya hidup jet-set alias orang borjuis.

“Gitulah dek, kota Medan ini. Hati-hati dek dalam bergaul, jangan sampe kebablasan kayak mereka yang abang ceritain tadi, kuliah yang bagus, bikin bangga orangtua. Setuju kan dek? Hehehehe”, kuanggukan kepala tanda setuju dan mengiyakan. Aku akan mengingat pesan si abang becak ini.

Tak terasa aku sudah sampai di depan kos. Satu jam berlalu penuh makna bersama abang becak, sungguh menjadi pelajaran bagiku agar aku dapat bertahan di negeri orang nanti. Lalu aku memberi ongkos becak padanya, kulebihkan dua ribu di selipan uang sepuluh ribu yang akan diterimanya.

“Makasih ya bang, udah ngantar saya sampe selamat. Semoga Allah memurahkan rezeki abang”, aku pun turun dari becaknya.

“Sama-sama dek”, balasnya sambil menggeber becaknya, mencari penumpang yang akan menjadi teman cerita di perjalanan selanjutnya.

Medan, 10 November 2011

Sebelum berangkat ke kampus n_n

Thanks for pic: sejarawanmuda.wordpress.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: